siapa yang akan lebih dahulu menarik picu?
kau?
atau aku?
siapa yang akan lebih dahulu tertembus peluru?
kau?
atau aku?
ps: kelak kenanglah aku hanya bilamana perlu..
lundi 13 novembre 2006
KADO
apakah sudah kau terima
paket bersampul coklat
isi kupu-kupu perak
yang kutangkap dari taman hatiku?
sebagai hadiahku untuk ulang tahunmu
paket bersampul coklat
isi kupu-kupu perak
yang kutangkap dari taman hatiku?
sebagai hadiahku untuk ulang tahunmu
SETIAP
Setiap (1)
Setiap kali melulu wajahmu yang mengisi benakku.
Setiap kali melulu tutur merdumu menambur gendang telingaku.
Setiap kali melulu sikap emosimu yang menghuni pelupukku.
Setiap kali melulu aku bertanya dan tersipu:
Bagaimana caranya semenit saja melupakanmu?
Setiap (2)
Kenapa setiap kali aku merasa
Bagai anak domba yang kau panggil merumput di ladang hatimu
dengan dendang kupu-kupu yang memanjakanku,
lantas tiba-tiba terjebak dalam benteng kawat berduri
yang tiba-tiba kau pancang mengelilingi hatimu.
Tak ada celah untukku keluar, aku tersangkut pilu.
Berdarah-darah dan sunyi,
Sendirian terkait di kawat berduri yang mengelilingi hatimu.
Setiap kali melulu wajahmu yang mengisi benakku.
Setiap kali melulu tutur merdumu menambur gendang telingaku.
Setiap kali melulu sikap emosimu yang menghuni pelupukku.
Setiap kali melulu aku bertanya dan tersipu:
Bagaimana caranya semenit saja melupakanmu?
Setiap (2)
Kenapa setiap kali aku merasa
Bagai anak domba yang kau panggil merumput di ladang hatimu
dengan dendang kupu-kupu yang memanjakanku,
lantas tiba-tiba terjebak dalam benteng kawat berduri
yang tiba-tiba kau pancang mengelilingi hatimu.
Tak ada celah untukku keluar, aku tersangkut pilu.
Berdarah-darah dan sunyi,
Sendirian terkait di kawat berduri yang mengelilingi hatimu.
i love you for sentimental reasons
Kadangkala aku bertanya-tanya bagaimanakah kelak episode ini berakhir? Apakah kisahku dengannya akan ditutup dengan kalimat “dan merekapun hidup bahagia selama-lamanya” bak dongeng Cinderella? Aku tak tahu. Lagipula, bagaimana kau mendefinisikan bahagia, apalagi dengan embel-embel ‘selama-lamanya’? seberapa lamakah selama-lamanya itu? Adakah bahagia yang selamanya macam itu? Ah, pernahkah kau bertanya-tanya juga, apa yang terjadi pada Cinderella dan pangerannya setelah kata “bahagia selama-lamanya”? Bagaimana cara mereka mengatasi masalah dan berbaikan lagi setelah mereka berselisih paham dan bertengkar karena hal-hal yang mungkin seharusnya tidak dipertengkarkan? Apakah Cinderella dan pangeran masih bergenggam tangan dan menatap mesra saat mereka sudah berusia senja? Apakah kita akan bersama dan hidup bahagia selamanya? Aku sungguh tak tahu. Tapi aku ingin sekali berkesempatan mencoba kemungkinan-kemungkinan itu.
Ada berapa kemungkinan cerita yang mungkin kumiliki dalam sepenggalan kisah hidup? Kisah ini bisa berlanjut menjadi kisah yang mana saja. Aku berdebar setiap kali memikirkan belasan bahkan puluhan kemungkinan arah selanjutnya kisahku dengannya. Aku seringkali merekonstruksi lagi kenangan-kenangan dengannya dan kadang aku mengulang beberapa bagian yang kusukai sampai beberapa kali. Aku tak punya banyak benda yang bisa kukenang darinya, kecuali kenangan-kenangan kami. Apakah ia juga pernah memikirkanku dan mengenangku? Aku tak tahu...
Aku tak percaya akhirnya kukatakan juga semua perasaan ini kepadanya. Banyak orang berpikir perempuan seharusnya diam. Menunggu. Berburu dengan pasif. Tapi kali ini aku tak bisa seperti itu lagi. Aku akan mengatakan apa yang bisa kukatakan hari ini, karena mungkin saja esok aku tidak akan punya kesempatan untuk mengatakan padanya. Aku tidak ingin menyesalinya. Aku tidak ingin menimbun lebih banyak harapan dan kenangan bila perasaan tidak berbalas. Mungkin ini hanya semata masalah waktu: sekarang atau nanti.
Ah, andai aku bisa memiliki waktu...
Tapi itu tak mungkin. Tak seorangpun bisa menggenggamnya atau menahan lajunya. Aku tengah berpacu dengan waktu, mungkin ia juga begitu...kita tak pernah tahu atau sadar betapa lajunya waktu berlari. Tahu-tahu pesta dansa Cinderella sudah hampir selesai. Jangan sampai kereta kencana berubah lagi menjadi labu sebelum aku sempat menaikinya dan tiba di rumah dengan selamat. Aku hanya merasa harus melakukan apa yang harus kulakukan.
Sebab itu kukatakan padanya, pemuda yang menyengat hati itu bahwa aku sangat menyayanginya dan merasa begitu beruntung pernah mengenalnya. Ia membantuku menjadi orang yang lebih baik dan ia membuatku percaya adanya ketulusan yang tak pamrih. Kuharap ia juga merasakan apa yang aku rasakan. Pun andai tidak, aku ingin meminta ijinnya untuk boleh terus menyimpan kenangan tentang dirinya dalam sudut khusus yang terjaga aman di hatiku dan aku ingin meyakinkannya bahwa ikatan hati kami tak akan kubiarkan renggang apapun yang terjadi. Aku masih menunggunya disini. Aku ingin dia tahu bahwa ada seseorang di dunia ini yang teramat menyayanginya dan menunggunya kembali...
for my beloved soulmate, whoever you are God gave me :)
...i know somewhere, there is someone waiting for me.
Ada berapa kemungkinan cerita yang mungkin kumiliki dalam sepenggalan kisah hidup? Kisah ini bisa berlanjut menjadi kisah yang mana saja. Aku berdebar setiap kali memikirkan belasan bahkan puluhan kemungkinan arah selanjutnya kisahku dengannya. Aku seringkali merekonstruksi lagi kenangan-kenangan dengannya dan kadang aku mengulang beberapa bagian yang kusukai sampai beberapa kali. Aku tak punya banyak benda yang bisa kukenang darinya, kecuali kenangan-kenangan kami. Apakah ia juga pernah memikirkanku dan mengenangku? Aku tak tahu...
Aku tak percaya akhirnya kukatakan juga semua perasaan ini kepadanya. Banyak orang berpikir perempuan seharusnya diam. Menunggu. Berburu dengan pasif. Tapi kali ini aku tak bisa seperti itu lagi. Aku akan mengatakan apa yang bisa kukatakan hari ini, karena mungkin saja esok aku tidak akan punya kesempatan untuk mengatakan padanya. Aku tidak ingin menyesalinya. Aku tidak ingin menimbun lebih banyak harapan dan kenangan bila perasaan tidak berbalas. Mungkin ini hanya semata masalah waktu: sekarang atau nanti.
Ah, andai aku bisa memiliki waktu...
Tapi itu tak mungkin. Tak seorangpun bisa menggenggamnya atau menahan lajunya. Aku tengah berpacu dengan waktu, mungkin ia juga begitu...kita tak pernah tahu atau sadar betapa lajunya waktu berlari. Tahu-tahu pesta dansa Cinderella sudah hampir selesai. Jangan sampai kereta kencana berubah lagi menjadi labu sebelum aku sempat menaikinya dan tiba di rumah dengan selamat. Aku hanya merasa harus melakukan apa yang harus kulakukan.
Sebab itu kukatakan padanya, pemuda yang menyengat hati itu bahwa aku sangat menyayanginya dan merasa begitu beruntung pernah mengenalnya. Ia membantuku menjadi orang yang lebih baik dan ia membuatku percaya adanya ketulusan yang tak pamrih. Kuharap ia juga merasakan apa yang aku rasakan. Pun andai tidak, aku ingin meminta ijinnya untuk boleh terus menyimpan kenangan tentang dirinya dalam sudut khusus yang terjaga aman di hatiku dan aku ingin meyakinkannya bahwa ikatan hati kami tak akan kubiarkan renggang apapun yang terjadi. Aku masih menunggunya disini. Aku ingin dia tahu bahwa ada seseorang di dunia ini yang teramat menyayanginya dan menunggunya kembali...
for my beloved soulmate, whoever you are God gave me :)
...i know somewhere, there is someone waiting for me.
THE PRAYER
Ingatkah kau, suatu ketika di joglo pinggir kali,
Ketika Ahad datang berseri dan hati kita tengah terbakar api.
Kita duduk berdua di amben kayu jati, terdiam membiarkan semua kata dilumat sunyi.
Kulihat pandangmu jauh melintasi hamparan pasir gunung Merapi,
Melompati tumpukan kayu bakar dan perempuan berkebaya yang menyapu halaman dengan sapu lidi.
Bara merah melompat jatuh dari rokok diselipan jemari...
“Seharusnya tak kubiarkan kau kemari, hai belahan diri...”
“Aku berjanji tak akan jatuh hati...”
“Mungkin kau tidak...tapi kau tak tahu siapa yang kau hadapi. Sejak awal sudah kukatakan hatiku telah kau kuasai!”
Sehelai daun hijau tua jatuh dan masuk kali. Mengapa kita tak boleh saling memiliki?
*****
Sore hampir tamat. Ia masih terpaku berdiri di sisi jendela kantornya yang menghadap ke barat, menerawang jauh melintasi gedung-gedung yang seolah berebutan menggapai awan jingga. Dimatanya yang berkaca-kaca tersimpan kepingan-kepingan harapan. Ia menghela nafasnya begitu panjang, seperti setengah berharap dapat menghirup seluruh kekuatan di dunia untuk masuk ke dalam tubuhnya. Tembang The Prayer milik Josh Groban sendu mengalun melatari kebekuan waktu.
“I pray you’ll be alright...”
Ia berjuang menahan jebolnya tanggul air mata yang siap merangsek dari setiap kerjapan matanya. Ia melirik jamnya. Sudah 2400 jam 24 menit dan 24 detik sejak perjumpaan terakhir mereka. Dalam hati ia berdo’a agar lelaki itu baik-baik saja. I’ll pray you’ll be alright.
Sekali lagi ia menghela nafasnya begitu panjang. Ia tengah mencari kabar kekasihnya dibalik tebaran awan yang mulai berubah merah keunguan. Apakah kekasihnya baik-baik saja? Apakah kekasihnya bahagia? Apakah kekasihnya pernah memikirkan dirinya sebanyak ia memikirkannya? Apakah kekasihnya masih mengingat kenangan terakhir mereka yang saat ini sedang diingatnya begitu ia mendengarkan lagu ini? Apakah kekasihnya pernah berusaha mencarinya...menghubungi polisi, menelepon program tali kasih di stasiun televisi, mengumumkan di koran dan radio atau bahkan sekedar mencarinya dibalik tebaran awan yang mulai berubah merah keunguan?
Ia beringsut menuju komputernya. Suara Josh Groban masih saja memenuhi ruang kerja dan ruang hatinya. Ia sudah clicked button Internet Explorer. Ia masih mengingat e-mailnya. Ia berpikir untuk menyapanya lewat sebaris kalimat basa basi yang amat basi, namun ia segera mengurungkan niatnya. Bukankah sudah 2400 jam 24 menit dan 24 detik sejak perjumpaan terakhir mereka, lelaki itu tak pernah lagi membalas sapanya meski cuma satu kata? Dulu ia bahkan sempat menulisi surat yang begitu panjang bercerita tentang perasaan dan kerinduannya, namun lagi-lagi semuanya tak berbalas. Begitulah, sejak itu ia berusaha lebih menahan diri dan tahu diri untuk tidak menghubunginya lagi. Tanda seru telah dibubuhkan pada kalimat penutup kisah mereka.
Ia kembali bersandar di jendela. Suara Josh Groban baru memasuki menit ke 2, masih pada lagu yang sama, yang sudah diputar lagi untuk ke 7 kalinya. Merah langit mulai terburai menjadi ungu. Ia mulai merasa lelah, marah dan hilang arah. Mengapa ia harus terlahir dengan keyakinan yang berbeda dengannya? Mengapa harus ada begitu banyak Tuhan apabila dunia berkata semua menuju yang Satu semata dan demi tujuan yang satu jua? Mengapa Tuhan harus mempertemukan dan menanamkan cinta di hati sepasang anak manusia bila mereka harus dipisahkan lagi atas Nama-Nya juga?
Ia lantas kembali bergerak menjauhi jendela untuk meraih telpon genggamnya. Tidak ada sms ataupun missed call dari belahan jiwanya dan seperti kemarin dan kemarin dan kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, ia segera mendial satu nama. Belahan Jiwa. Ia ingin sekali menyatakan segenap kerinduannya, betapa inginnya ia kembali pada suatu Minggu dua puluh delapan November pagi 2400 jam 24 menit dan 24 detik yang lalu...saat untuk terakhir kalinya mereka bertemu di sebuah joglo di kaki Merapi. Namun seperti juga kemarin dan kemarin dan kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, ia segera saja mematikan teleponnya bahkan sebelum nada sambung berbunyi. Kesal dengan dirinya, ia segera membuka pintu teras kantornya yang terletak di lantai sembilan dan melempar jauh-jauh telepon genggamnya.
I'll pray she'll be allright
Buat Arya dan Febri. I'll pray you'll be allright
Ketika Ahad datang berseri dan hati kita tengah terbakar api.
Kita duduk berdua di amben kayu jati, terdiam membiarkan semua kata dilumat sunyi.
Kulihat pandangmu jauh melintasi hamparan pasir gunung Merapi,
Melompati tumpukan kayu bakar dan perempuan berkebaya yang menyapu halaman dengan sapu lidi.
Bara merah melompat jatuh dari rokok diselipan jemari...
“Seharusnya tak kubiarkan kau kemari, hai belahan diri...”
“Aku berjanji tak akan jatuh hati...”
“Mungkin kau tidak...tapi kau tak tahu siapa yang kau hadapi. Sejak awal sudah kukatakan hatiku telah kau kuasai!”
Sehelai daun hijau tua jatuh dan masuk kali. Mengapa kita tak boleh saling memiliki?
*****
Sore hampir tamat. Ia masih terpaku berdiri di sisi jendela kantornya yang menghadap ke barat, menerawang jauh melintasi gedung-gedung yang seolah berebutan menggapai awan jingga. Dimatanya yang berkaca-kaca tersimpan kepingan-kepingan harapan. Ia menghela nafasnya begitu panjang, seperti setengah berharap dapat menghirup seluruh kekuatan di dunia untuk masuk ke dalam tubuhnya. Tembang The Prayer milik Josh Groban sendu mengalun melatari kebekuan waktu.
“I pray you’ll be alright...”
Ia berjuang menahan jebolnya tanggul air mata yang siap merangsek dari setiap kerjapan matanya. Ia melirik jamnya. Sudah 2400 jam 24 menit dan 24 detik sejak perjumpaan terakhir mereka. Dalam hati ia berdo’a agar lelaki itu baik-baik saja. I’ll pray you’ll be alright.
Sekali lagi ia menghela nafasnya begitu panjang. Ia tengah mencari kabar kekasihnya dibalik tebaran awan yang mulai berubah merah keunguan. Apakah kekasihnya baik-baik saja? Apakah kekasihnya bahagia? Apakah kekasihnya pernah memikirkan dirinya sebanyak ia memikirkannya? Apakah kekasihnya masih mengingat kenangan terakhir mereka yang saat ini sedang diingatnya begitu ia mendengarkan lagu ini? Apakah kekasihnya pernah berusaha mencarinya...menghubungi polisi, menelepon program tali kasih di stasiun televisi, mengumumkan di koran dan radio atau bahkan sekedar mencarinya dibalik tebaran awan yang mulai berubah merah keunguan?
Ia beringsut menuju komputernya. Suara Josh Groban masih saja memenuhi ruang kerja dan ruang hatinya. Ia sudah clicked button Internet Explorer. Ia masih mengingat e-mailnya. Ia berpikir untuk menyapanya lewat sebaris kalimat basa basi yang amat basi, namun ia segera mengurungkan niatnya. Bukankah sudah 2400 jam 24 menit dan 24 detik sejak perjumpaan terakhir mereka, lelaki itu tak pernah lagi membalas sapanya meski cuma satu kata? Dulu ia bahkan sempat menulisi surat yang begitu panjang bercerita tentang perasaan dan kerinduannya, namun lagi-lagi semuanya tak berbalas. Begitulah, sejak itu ia berusaha lebih menahan diri dan tahu diri untuk tidak menghubunginya lagi. Tanda seru telah dibubuhkan pada kalimat penutup kisah mereka.
Ia kembali bersandar di jendela. Suara Josh Groban baru memasuki menit ke 2, masih pada lagu yang sama, yang sudah diputar lagi untuk ke 7 kalinya. Merah langit mulai terburai menjadi ungu. Ia mulai merasa lelah, marah dan hilang arah. Mengapa ia harus terlahir dengan keyakinan yang berbeda dengannya? Mengapa harus ada begitu banyak Tuhan apabila dunia berkata semua menuju yang Satu semata dan demi tujuan yang satu jua? Mengapa Tuhan harus mempertemukan dan menanamkan cinta di hati sepasang anak manusia bila mereka harus dipisahkan lagi atas Nama-Nya juga?
Ia lantas kembali bergerak menjauhi jendela untuk meraih telpon genggamnya. Tidak ada sms ataupun missed call dari belahan jiwanya dan seperti kemarin dan kemarin dan kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, ia segera mendial satu nama. Belahan Jiwa. Ia ingin sekali menyatakan segenap kerinduannya, betapa inginnya ia kembali pada suatu Minggu dua puluh delapan November pagi 2400 jam 24 menit dan 24 detik yang lalu...saat untuk terakhir kalinya mereka bertemu di sebuah joglo di kaki Merapi. Namun seperti juga kemarin dan kemarin dan kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, ia segera saja mematikan teleponnya bahkan sebelum nada sambung berbunyi. Kesal dengan dirinya, ia segera membuka pintu teras kantornya yang terletak di lantai sembilan dan melempar jauh-jauh telepon genggamnya.
I'll pray she'll be allright
Buat Arya dan Febri. I'll pray you'll be allright
mercredi 18 octobre 2006
Doa
menjelang bulan suci berakhir...
kupanjatkan doa padamu Tuhan..
agar berikan kelapangan hati untuk memaafkan mereka yang pernah menyakitiku
dan memberikanku kelapangan hati untuk meminta maaf sepenuh hati pada mereka yang pernah kusakiti.
kupanjatkan doa padamu Tuhan..
agar berikan kelapangan hati untuk memaafkan mereka yang pernah menyakitiku
dan memberikanku kelapangan hati untuk meminta maaf sepenuh hati pada mereka yang pernah kusakiti.
vendredi 30 juin 2006
JATUH CINTA 2
kusembunyikan perasaanku yang mulai memerah mawar di celah tuts-tuts huruf di keyboard komputerku.
uselipkan diam-diam cemas rinduku di balik canda kata-kata puisiku.
kuhindarkan namamu dari ucap lidahku dan kusingkirkan tawa lepasmu yang begitu kurindu dari daftar penyebab merahnya pipi bulatku.
dan diam-diam setiap malam
kupandangi lagi senyum bekumu dalam sehelai kertas yang terbingkai kayu sungkai.
selalu saja mataku lama terpaku disitu
dan hatiku kian merindu...
menunggu...
uselipkan diam-diam cemas rinduku di balik canda kata-kata puisiku.
kuhindarkan namamu dari ucap lidahku dan kusingkirkan tawa lepasmu yang begitu kurindu dari daftar penyebab merahnya pipi bulatku.
dan diam-diam setiap malam
kupandangi lagi senyum bekumu dalam sehelai kertas yang terbingkai kayu sungkai.
selalu saja mataku lama terpaku disitu
dan hatiku kian merindu...
menunggu...
mercredi 28 juin 2006
JATUH CINTA 1
Kenapa kau biarkan aku jatuh cinta sendirian padamu?
Kenapa kau biarkan dirimu memesonakanku?
Kenapa kau tawan hatiku bagai pijar petromaks mematikan laron?
Kenapa?
sedang gedubrakan jatuh cinta setengah mati.
Kenapa kau biarkan dirimu memesonakanku?
Kenapa kau tawan hatiku bagai pijar petromaks mematikan laron?
Kenapa?
sedang gedubrakan jatuh cinta setengah mati.
mardi 20 juin 2006
murid-muridku,
tegurlah keras diriku,
apabila aku hanya mengajarimu
membaca dan mengeja kata
tanpa membuatmu paham makna
hidupmu di dunia haruslah bahagia
dan mengurangi sebanyak mungkin nestapa.
jangan ragu untuk berteriak protes
kalau aku tak bisa membuatmu sadar bahwa hidup bukan cuma main Pe-Es
atau sekedar ikutan les-les yang tak kunjung membuat otakmu beres
tanpa membuatmu sadar ada teman-teman seumurmu
harus keliling kampung menjual es,
supaya bisa tebus spp dan ikut ujian atawa tes.
murid-muridku,
jangan biarkan aku cuma mengajarmu berhitung
jika masih kubiarkan kau hanya bisa cari untung
dengan memotong keringat orang lain menjadi buntung.
jangan biarkan aku cuma mengajarimu cara mengali
tanpa pernah tahu caranya membagi
ingatkan aku untuk mengajarimu matematika nurani,
agar kau tahu bagaimana menambah amal, mengurangi dosa
agar kau ngerti bahwa membagi lebih banyak
takkan pernah mengurangi kekayaan dan harga diri.
murid-muridku,
ingatkan aku agar tak lelah mengajarmu dan diriku
bagaimana caranya menjadi manusia
sebenar-benar manusia
tegurlah keras diriku,
apabila aku hanya mengajarimu
membaca dan mengeja kata
tanpa membuatmu paham makna
hidupmu di dunia haruslah bahagia
dan mengurangi sebanyak mungkin nestapa.
jangan ragu untuk berteriak protes
kalau aku tak bisa membuatmu sadar bahwa hidup bukan cuma main Pe-Es
atau sekedar ikutan les-les yang tak kunjung membuat otakmu beres
tanpa membuatmu sadar ada teman-teman seumurmu
harus keliling kampung menjual es,
supaya bisa tebus spp dan ikut ujian atawa tes.
murid-muridku,
jangan biarkan aku cuma mengajarmu berhitung
jika masih kubiarkan kau hanya bisa cari untung
dengan memotong keringat orang lain menjadi buntung.
jangan biarkan aku cuma mengajarimu cara mengali
tanpa pernah tahu caranya membagi
ingatkan aku untuk mengajarimu matematika nurani,
agar kau tahu bagaimana menambah amal, mengurangi dosa
agar kau ngerti bahwa membagi lebih banyak
takkan pernah mengurangi kekayaan dan harga diri.
murid-muridku,
ingatkan aku agar tak lelah mengajarmu dan diriku
bagaimana caranya menjadi manusia
sebenar-benar manusia
no preservatives
kucoba awetkan kenangan-kenangan hidupku
dalam deretan toples-toples kaca bening yang steril.
kulabel setiap toples dengan tulisan tangan sederhana
barcode dan tanggal produksi tertera di bagian samping.
tapi kolom kadaluarsa masih saja kosong.
aku curiga kenangan hidupku takkan pernah basi
sendirinya awet tanpa pengawet.
manis tanpa pemanis
mematikan tanpa racun
terkadang berdarah tanpa luka.
dalam deretan toples-toples kaca bening yang steril.
kulabel setiap toples dengan tulisan tangan sederhana
barcode dan tanggal produksi tertera di bagian samping.
tapi kolom kadaluarsa masih saja kosong.
aku curiga kenangan hidupku takkan pernah basi
sendirinya awet tanpa pengawet.
manis tanpa pemanis
mematikan tanpa racun
terkadang berdarah tanpa luka.
jeudi 15 juin 2006
hanya padaMU
Bulan jingga melubangi malam
yang hangus dan legam
diranggas rindu dendam
bahkan kerlip bintang berceceran
seakan enggan berkawan bulan
yang sedari tadi termenung sendirian
sia-sia meminta angin hembuskan dingin
pada rindu yang begitu ingin
percuma saja memaksa salju bekukan kalbu
kalau hati masih begitu menggebu-gebu
malam masih saja sendirian
cerminan rinduku pada-Mu
yang hangus dan legam
diranggas rindu dendam
bahkan kerlip bintang berceceran
seakan enggan berkawan bulan
yang sedari tadi termenung sendirian
sia-sia meminta angin hembuskan dingin
pada rindu yang begitu ingin
percuma saja memaksa salju bekukan kalbu
kalau hati masih begitu menggebu-gebu
malam masih saja sendirian
cerminan rinduku pada-Mu
lundi 12 juin 2006
...
Aku sudah berdoa seharian
tapi tampaknya Tuhan sedang bepergian..
tapi memang sudah seharusnya, bukan?
aku harus bersiap untuk tidak siap
bahwa dia mati jika diamati
.......
"lho kamu belum mati juga?"
"belum...katanya mereka belum selesai membangun surga"
.......
tapi tampaknya Tuhan sedang bepergian..
tapi memang sudah seharusnya, bukan?
aku harus bersiap untuk tidak siap
bahwa dia mati jika diamati
.......
"lho kamu belum mati juga?"
"belum...katanya mereka belum selesai membangun surga"
.......
samedi 10 juin 2006
LOVE = LOST+NAIVE
please remember to remember me
and please forget to forget me
even if you remember to forget me,
please remember to forget to remember me.
once i want to forget to remember you
but i just forget not to forget you.
no matter how hard i try to forget you
i always remember to remember you
and please forget to forget me
even if you remember to forget me,
please remember to forget to remember me.
once i want to forget to remember you
but i just forget not to forget you.
no matter how hard i try to forget you
i always remember to remember you
RINDU
Setiap kali memandangmu...
aku hanya berharap dapat mengatakan sesuatu,
seperti : aku cinta padamu.
tapi entah mengapa aku hanya bisa berkata dalam bisu
dan memandang penuh rindu padamu hanya dalam kelu,
meski kau selalu ada disitu..
disebelahku.
aku hanya berharap dapat mengatakan sesuatu,
seperti : aku cinta padamu.
tapi entah mengapa aku hanya bisa berkata dalam bisu
dan memandang penuh rindu padamu hanya dalam kelu,
meski kau selalu ada disitu..
disebelahku.
SUDAHLAH, BANG!
mungkin memang sudah saatnya kita lupakan saja semua hal ini, bang.
aku lelah sudah terlalu lama mengambang
dan merasa gamang.
masa depan ternyata tak terlalu terang,
bahkan mimpipun tak ada ruang untuk mengawang.
percuma saja,bang...
bila bersama hanya akan membuat hati kita semakin berlubang
dan hanya duka yang kelak melulu kita kenang.
ini bukan soal kalah atau menang,
tapi pilihan untuk menuruti kekang
atau melayang terbang.
kita sudah lama tahu itu,bang..
bahwa akan ada jarak yang terentang
dan perasaan akan centang perenang..
kita sudahi saja sampai disini, bang!
ayo kita terima saja kenyataan hati kita tak sepadas batu karang,
sebab begitu mudah terkikis oleh ombak yang konstan menerjang,
menghablur hancur menjadi serpihan pasir disela lekuk karang.
aku tak menyalahkanmu, bang
aku lelah sudah terlalu lama mengambang
dan merasa gamang.
masa depan ternyata tak terlalu terang,
bahkan mimpipun tak ada ruang untuk mengawang.
percuma saja,bang...
bila bersama hanya akan membuat hati kita semakin berlubang
dan hanya duka yang kelak melulu kita kenang.
ini bukan soal kalah atau menang,
tapi pilihan untuk menuruti kekang
atau melayang terbang.
kita sudah lama tahu itu,bang..
bahwa akan ada jarak yang terentang
dan perasaan akan centang perenang..
kita sudahi saja sampai disini, bang!
ayo kita terima saja kenyataan hati kita tak sepadas batu karang,
sebab begitu mudah terkikis oleh ombak yang konstan menerjang,
menghablur hancur menjadi serpihan pasir disela lekuk karang.
aku tak menyalahkanmu, bang
I MISS THE CRANBERRIES TIME
I'm Free to Decide, to follow my Animal Instict and Bury the Hatched or act like a Zombie.
I'm Free to Decide, where would i go to find my Salvation.
I'm Free to Decide, if i want to stay here in my room,snuggle under my blanket or just Wake Up and Smell the Coffee.
Desperate and Disappointment is no longer here, you may Go Your Own WayI do respect any Reason, even a Ridiculous Thoughts.
SING WITH ME!
It's not worth anything more than this at all.
I'll live as I choose, or I will not live at all.
So return to where you come from.
Return to where you dwell,
Because harassment’s not my forte,
But you do it very well.
I'm free to decide.
I'm free to decide,
And I'm not so suicidal after all.
I'm free to decide.
I'm free to decide,
And I'm not so suicidal after all, At all,
at all, at all.
You must have nothing more with your time to do.
There's a war in Russia and Sarajevo too.
So to hell with what you're thinking,
And to hell with your narrow mind.
Your so distracted from the real thing.
You should leave your life behind.
I'm Free to Decide, where would i go to find my Salvation.
I'm Free to Decide, if i want to stay here in my room,snuggle under my blanket or just Wake Up and Smell the Coffee.
Desperate and Disappointment is no longer here, you may Go Your Own WayI do respect any Reason, even a Ridiculous Thoughts.
SING WITH ME!
It's not worth anything more than this at all.
I'll live as I choose, or I will not live at all.
So return to where you come from.
Return to where you dwell,
Because harassment’s not my forte,
But you do it very well.
I'm free to decide.
I'm free to decide,
And I'm not so suicidal after all.
I'm free to decide.
I'm free to decide,
And I'm not so suicidal after all, At all,
at all, at all.
You must have nothing more with your time to do.
There's a war in Russia and Sarajevo too.
So to hell with what you're thinking,
And to hell with your narrow mind.
Your so distracted from the real thing.
You should leave your life behind.
birthday gift from Nietzsche
Kamu bagiku adalah laut.
Sekali waktu pernah datang seperti tsunami ke pantaiku.
Kemudian reda.
Tetapi laut tetap laut.
Bukan pasir.
Didalam dirimu semua rahasiaku
Kamu adalah pelabuhan pikirku.
Lautmu adalah muara semua
segala rahasiaku.
Sekali waktu pernah datang seperti tsunami ke pantaiku.
Kemudian reda.
Tetapi laut tetap laut.
Bukan pasir.
Didalam dirimu semua rahasiaku
Kamu adalah pelabuhan pikirku.
Lautmu adalah muara semua
segala rahasiaku.
23/09/03
peradaban?
adalah ketika dalam bisa kota jurusan ciputat -blok m pada suatu minggu malam yang hujan, sang supir mengeluarkan nokia layar warna dan berkata : "halo, sayang...iya, mas lagi narik nih.tumben nelepon.iya..oh,ya disini ujan juga. udah deket lebak bulus. nanti kamu telepon lagi ya, yang. takut nabrak, yang sedih kan kamu juga. iya..mmmuaaahhhh"
afeksi?
adalah ketika kudengar : "miyung..miyung..pus, cini cayang" dari mulut seorang preman berambut merah gondrong yang selalu nongkrong diperempatan bintaro-kampung utan. lalu tangannya yang penuh tato terulur membelai anak kucing abu-abu yang sedari tadi duduk disebelahnya dan memandangnya di kursi panjang depan kios.
represi?
adalah ketika seorang polisi bernama ajip sukarna menampar supir angkot pondok labu-ciputat tanpa sim dan stnk yang kutumpangi dan berteriak, "emang kamu pikir sekolah saya murah? saya sudah habis satu motor dan tanah. awas luh kalau besok nggak ngasih pekgo gua. masih untung nggak gua bui". padahal itu adalah senja yang hangat dan indah.
kemiskinan?
adalah ketika kubaca di koran mengenai pembunuhan karena selembar uang lima ribu rupiah dan sebentuk anting imitasi. adalah kisah tentang anak-anak umur 6-13 tahun yang dipekerjakan di jermal lepas pantai. bertarung hidup demi tiga lembar puluhan ribu. adalah kisah bunga-bunga mungil setengah mekar yang dipetik terlalu dini atas kehendak bunda yang keji dan hanya silau materi. sementara murid-muridku disekolah membanggakan mainan ratusan ribu yang kemarin dibeli di pondok indah mall dan liburan terakhir ke pelosok-pelosok dunia.
29/09/03
adalah ketika dalam bisa kota jurusan ciputat -blok m pada suatu minggu malam yang hujan, sang supir mengeluarkan nokia layar warna dan berkata : "halo, sayang...iya, mas lagi narik nih.tumben nelepon.iya..oh,ya disini ujan juga. udah deket lebak bulus. nanti kamu telepon lagi ya, yang. takut nabrak, yang sedih kan kamu juga. iya..mmmuaaahhhh"
afeksi?
adalah ketika kudengar : "miyung..miyung..pus, cini cayang" dari mulut seorang preman berambut merah gondrong yang selalu nongkrong diperempatan bintaro-kampung utan. lalu tangannya yang penuh tato terulur membelai anak kucing abu-abu yang sedari tadi duduk disebelahnya dan memandangnya di kursi panjang depan kios.
represi?
adalah ketika seorang polisi bernama ajip sukarna menampar supir angkot pondok labu-ciputat tanpa sim dan stnk yang kutumpangi dan berteriak, "emang kamu pikir sekolah saya murah? saya sudah habis satu motor dan tanah. awas luh kalau besok nggak ngasih pekgo gua. masih untung nggak gua bui". padahal itu adalah senja yang hangat dan indah.
kemiskinan?
adalah ketika kubaca di koran mengenai pembunuhan karena selembar uang lima ribu rupiah dan sebentuk anting imitasi. adalah kisah tentang anak-anak umur 6-13 tahun yang dipekerjakan di jermal lepas pantai. bertarung hidup demi tiga lembar puluhan ribu. adalah kisah bunga-bunga mungil setengah mekar yang dipetik terlalu dini atas kehendak bunda yang keji dan hanya silau materi. sementara murid-muridku disekolah membanggakan mainan ratusan ribu yang kemarin dibeli di pondok indah mall dan liburan terakhir ke pelosok-pelosok dunia.
29/09/03
REUNI TERAKHIR
Sebuah cerpen
Malam baru saja rebah saat ia menghampiriku di pojokan kotanya. “Kau datang juga akhirnya,Tung” Matanya yang menyorotkan ketakterdugaan samudra itu menatapku tajam. Ah, mata itu…sudah berapa lama sejak terakhir kali ia mengusirku dengan kerlingan matanya di ujung jalan kota ini yang gersang berdebu? “Aku selalu datang, Ting…Hmmm. Akhirnya kau mau menemuiku juga, Ting”. Matanya tersenyum. Bibirnya tidak. “Ayo!” *** Malam di kotanya selalu meruapkan bau kebimbangan. Antara hidup dan tak hidup, antara cinta dan tak cinta. Seperti juga dia. The man who lives forever in between land.
Kami berdua duduk diatas pagar tembok ujung sebuah mini market 24 jam di depan sebuah pertigaan. Berdua kami bersandar pada dinding kios rokok bercat hijau metalik yang telah tutup, menatap gedung bank pembangunan daerah di depan kami. “Bank, Tung...apa mereka juga punya deposit box untuk kenangan-kenangan kita di dalam sana?” suaranya seperti bunyi sunyi. Aku menunduk. Sudut ini begitu gelap. Kota masih lelap didekap senyap. Betapa sulit membunuh kenangan. Kenangan yang dalam 2 tahun perpisahan kami pun masih saja meneteskan merah darah. Dan seperti katanya, aku tahu sia-sia saja mencoba membalut luka saat semuanya masih berdarah, masih bernanah. Ia pernah bilang, “Biarkan lukamu mengering pada masanya, pada waktunya, Tung”.
Tujuh ratus tiga puluh empat hari aku berusaha melupakanmu, Ting. Selama itu. Dan aku masih saja gagal. Tidakkah mekanisme kenangan begitu absurd, sayang? Adakalanya kau mencoba mengumpulkan segala sesuatu agar kenangan tetap membayang, sementara adakalanya pula kau tak bisa melupakan meski kenangan telah kau buang. Aku pernah bertanya pada seseorang ahli forensik, saat kau mengotopsi seseorang, apakah yang kau temukan pada otak seseorang yang mati karena begitu perih merindu? Anak-anak yang dibuang orangtuanya, kakek nenek yang dilupa anak cucunya dan orang-orang yang rindu pada kehidupan bahagia itu? Dimana kau temukan jejak rindunya? Pada hepar yang telah berhenti berdebar atau pada seonggok spons kekuningan dalam kranium yang sering berangan-angan? Ia tidak tahu. Ia tidak bisa membedakan otak orang yang jatuh cinta dan yang membenci dan ia tidak peduli. “ Ah, bukankan beda cinta dan benci juga lebih tipis dari membran yang paling tipis?”.
Kau mengeluarkan sebungkus Gudang Garam merah dan mulai menyulut satu. Ia masih merokok saja, meski dia tahu aku benci itu. Tapi aku sangat menikmati melihat pendar wajahnya dalam dramatisnya sepercik api di tudungan langit malam? Ahha! Tidakkah sekarang kau mengerti bahwa beda cinta dan benci memang begitu tipis? Kau menyungging senyum setipis beda keduanya “Kau pasti sebal aku masih merokok...ah, kau memang seharusnya benci padaku. Merokok atau tidak merokok. Aku memang brengsek, Tung”. Aku diam saja dan merebut lembut rokok itu dari sela jemarinya. Aku menghisapnya perlahan. Dalam dan pelan...teramat pelan. Kau terkejut tapi berhasil meredamnya dengan baik. Kau menatapku dalam raut kesima.
“ Aku tidak pernah tahu perempuan baik-baik dan berjilbab macam kamu bisa merokok”.
“ Aku juga tidak...tapi kenapa harus peduli? Lagipula rokok itu makruh,kau tahu artinya?”
“ Yeahh..”
Ia mengeluarkan sebatang lagi dan kami berdua hanya menghirup nikotin itu dalam-dalam dan pelan-pelan dalam sunyi. Sunyi yang amat cerewet. Malam menghantar kalimat-kalimat yang tak terucapkan.
Kau menarik nafas panjang setelah batang keempat.
“Kau pikir aku juga tak pernah rindu padamu, Tung? Ah, kenapa kau pikir begitu?” Tentu saja kau tahu jawabnya mengapa kau pikir begitu. Kau tak pernah peduli, tak pernah menyapa lagi dan tega membiarkan inginku jadi dingin yang berlalu bersama angin.
“Kau tahu, Tung? Membuat konklusi prematur tentang perasaan seseorang padamu adalah kejahatan yang amat serius. Aku bisa menuntutmu untuk itu” . kau tersenyum.
“ Aku bisa menuntutmu terlebih dahulu atas kejahatan yang lebih serius, Ting”
“ Apa? Memangnya aku pernah memerkosa kamu? Hahaha...kamu satu-satunya pacarku yang masih perawan dan aku menghormati pilihanmu. Aku setengah mati berusaha tak menyentuhmu sama sekali. What could be worse than that? Hahahaha” . kami terkekeh pelan bersamaan kali ini..lalu terdiam lagi.
“ Kau memutilasi hidupku. Kau curi lantas kau campakkan begitu saja hatiku. Sulit bagiku untuk hidup seperti sediakala lagi, Ting. I was heavily paralyzed”.
“ Kau tahu dari awal aku memang seperti itu, kan? Hhhh...yang mungkin tak kau tahu adalah kau juga melumpuhkan hatiku, Tung. Aku tu sayang sekali sama kamu. Kau tahu itu? Kurasa tidak. Bukannya aku tidak pernah mencoba untuk mencintai perempuan-perempuan lain setelah kepergianmu. Ternyata belajar jatuh cinta itu sulitnya bukan main. Kau tahu bukan, aku tak bisa dan tak pernah terbiasa untuk menyandarkan hatiku pada sesiapapun.”
“ Aku tahu “
“ Mencintai itu luka, Tung. Merindukan itu kalah dan cemburu itu bunuh diri bagi hati. Kau tahu rasanya ketika kau bersama dengan lelaki itu? Aku meranggas mati!”
“ Lelaki mana?”
“ Lelaki yang bisa mengembalikan lagi kepercayaanmu pada cinta”
“ Bagaimana kau...”
“ Web blog-mu. Aku membacanya tiap hari”
“ Tapi bagaimana mungkin kau menemukannya? Aku tak pernah beritahu sesiapa” “ Mungkin aku terlalu mengenal dirimu. Mungkin aku tidak sengaja meng-google apapun yang berkaitan dengan kamu, Tung. Nama panggilan kesayangan kita, nama kucingmu..ibumu..apapun. Mungkin waktu itu aku cuma sedang terlalu kangen namun tak punya cukup keberanian untuk menghubungimu dan mengatakannya padamu. Waktu itulah aku menemukan blog-mu. Setiap apa yang kau tulis disitu kuanggap merupakan bagian dari caramu untuk berkomunikasi denganku. Kau berhasil”
Aku tidak pernah berharap dia akan membaca semua tumpahan perasaan yang tertulis dalam sebuah blog yang rasanya alamatnya tak akan pernah diketahui oleh sesiapa. Aku memang tak biasa mengungkapkan perasaanku. Aku menuliskannya, aku merasakannya. Merasa, bergerak dan menjelma kisah. Aku sudah lama kehilangan kepercayaanku pada kepercayaanku pada orang lain. Aku tidak tahu apakah memang begitu sifat manusia. Dua sahabat saling memercayakan rahasia mereka pada satu sama lain, namun saling berlomba menjatuhkan nama dan membonkar borok aib saat mereka berseteru. Aku tidak suka itu. Aku juga sudah lama kehilangan kepercayaan pada cinta. Aku tak lagi percaya. Peperangan dan pembunuhan terkejam pun dilakukan atas dasar cinta. Cinta pada kekasih, pada Tuhan, pada harta..pada apapun. Kau lihat apa yang terjadi di palagan Bubat? Kau tahu apa yang menyebabkan terbunuhnya jutaan orang dalam revolusi kebudayaan Cina? Itu semua karena cinta. Aku tidak tahu pada apa dan siapa lagi aku bisa percaya, kecuali pada Tuhanku.
“ Aku sayang kamu Tung”
“ Aku juga...tapi aku memendam marah padamu, Ting...marah yang kelewat merah dan berdarah”
“ Aku tahu, Tung”
“ Kau memberiku sayap dan membawaku menikmati indahnya dunia, tapi kau yang mematahkannya. Tanpa sebab kau membuat malam-malamku berakhir sembab.”
“ Aku...”
“ Dulu kuanggap kau salah satu cahaya hatiku, Ting...Aku lupa, cahaya yang terang bisa menerangi atau malah membutakan. Ternyata kau cahaya yang membutakanku.”
“Aku berjanji kali ini tidak akan ada lagi sakit hati. Aku kira selama ini aku berhasil memenangkan pertandingan ego ini. ternyata tidak. Aku kalah karena aku tidak bisa menahan diri untuk menghubungimu lagi. Kau juga kalah karena kau bersedia menemuiku lagi meski kita sama-sama tahu aku sudah banyak mengabaikan dan menyakitimu”
“ Tapi ini bukan soal kalah atau menang, Ting. Tapi pilihan untuk tinggal. Kita sudah lama tahu ini akan terjadi. Bahwa akan ada jarak terentang dan perasaan kita akan centang perenang. Kau bermasalah dengan komitmen, aku pun. Kau tak pernah ingin terikat dan aku....Aku sudah jenuh dan ingin segera berlabuh dan membuang sauh. Aku tak ingin memaksa sesiapapun. I’d rather be alone than unhappy.”
“ Maaf ...” Kau terdiam...aku juga. Bergantian menunduk dan menatap bank pembangunan daerah di depan kami. Andai ada alat penghancur kenangan, semahal apapun itu pasti akan kubeli. Untukku satu dan untukmu satu. Angin menghembus pikirku entah kemana. Aneh sekali mengingat bagaimana perasaan bekerja. Sepasang manusia bertemu, tersipu dan bersatu...lalu mungkin jemu lantas berseteru. Kita tak pernah saling mengenal sebelumnya Ting, lalu kau datang memorak morandakan hidupku. Kita menemukan begitu banyak persamaan dalam perbedaan kita. Budaya kita, arah hidup kita, sikap kita, selera bahkan trauma dan kenangan masa kecil kita. Kenanganlah yang mempersatukan kita dan ironisnya, kenangan pula yang memisahkan kita.
“Maaf......” ucapmu sambil merengkuh bahuku masuk kedalam pelukan berbingkai tulang belulangmu. Tak ada kata yang keluar dari mulutku dan juga mulutmu. Aku bersandar di selangka kurus itu tanpa membalas pelukannya sama sekali. Jauh didalam sini, hatiku terasa agak nyeri. Besok pagi aku akan pergi dan tak akan pernah kembali. Riwayat rasa ini, kusudahi sampai disini. Hidupku akan terus berlari, bagai peluru yang terus melaju dan tak lagi ingin melihat kemungkinan-kemungkinan dibelakang, kecuali yang terlihat di ujung matanya. Aku mengucap selamat tinggal keunguan pada masa lalu dan masa depan kami. Semua tamat hingga disini.
Yogyakarta, suatu pagi buta.
Malam baru saja rebah saat ia menghampiriku di pojokan kotanya. “Kau datang juga akhirnya,Tung” Matanya yang menyorotkan ketakterdugaan samudra itu menatapku tajam. Ah, mata itu…sudah berapa lama sejak terakhir kali ia mengusirku dengan kerlingan matanya di ujung jalan kota ini yang gersang berdebu? “Aku selalu datang, Ting…Hmmm. Akhirnya kau mau menemuiku juga, Ting”. Matanya tersenyum. Bibirnya tidak. “Ayo!” *** Malam di kotanya selalu meruapkan bau kebimbangan. Antara hidup dan tak hidup, antara cinta dan tak cinta. Seperti juga dia. The man who lives forever in between land.
Kami berdua duduk diatas pagar tembok ujung sebuah mini market 24 jam di depan sebuah pertigaan. Berdua kami bersandar pada dinding kios rokok bercat hijau metalik yang telah tutup, menatap gedung bank pembangunan daerah di depan kami. “Bank, Tung...apa mereka juga punya deposit box untuk kenangan-kenangan kita di dalam sana?” suaranya seperti bunyi sunyi. Aku menunduk. Sudut ini begitu gelap. Kota masih lelap didekap senyap. Betapa sulit membunuh kenangan. Kenangan yang dalam 2 tahun perpisahan kami pun masih saja meneteskan merah darah. Dan seperti katanya, aku tahu sia-sia saja mencoba membalut luka saat semuanya masih berdarah, masih bernanah. Ia pernah bilang, “Biarkan lukamu mengering pada masanya, pada waktunya, Tung”.
Tujuh ratus tiga puluh empat hari aku berusaha melupakanmu, Ting. Selama itu. Dan aku masih saja gagal. Tidakkah mekanisme kenangan begitu absurd, sayang? Adakalanya kau mencoba mengumpulkan segala sesuatu agar kenangan tetap membayang, sementara adakalanya pula kau tak bisa melupakan meski kenangan telah kau buang. Aku pernah bertanya pada seseorang ahli forensik, saat kau mengotopsi seseorang, apakah yang kau temukan pada otak seseorang yang mati karena begitu perih merindu? Anak-anak yang dibuang orangtuanya, kakek nenek yang dilupa anak cucunya dan orang-orang yang rindu pada kehidupan bahagia itu? Dimana kau temukan jejak rindunya? Pada hepar yang telah berhenti berdebar atau pada seonggok spons kekuningan dalam kranium yang sering berangan-angan? Ia tidak tahu. Ia tidak bisa membedakan otak orang yang jatuh cinta dan yang membenci dan ia tidak peduli. “ Ah, bukankan beda cinta dan benci juga lebih tipis dari membran yang paling tipis?”.
Kau mengeluarkan sebungkus Gudang Garam merah dan mulai menyulut satu. Ia masih merokok saja, meski dia tahu aku benci itu. Tapi aku sangat menikmati melihat pendar wajahnya dalam dramatisnya sepercik api di tudungan langit malam? Ahha! Tidakkah sekarang kau mengerti bahwa beda cinta dan benci memang begitu tipis? Kau menyungging senyum setipis beda keduanya “Kau pasti sebal aku masih merokok...ah, kau memang seharusnya benci padaku. Merokok atau tidak merokok. Aku memang brengsek, Tung”. Aku diam saja dan merebut lembut rokok itu dari sela jemarinya. Aku menghisapnya perlahan. Dalam dan pelan...teramat pelan. Kau terkejut tapi berhasil meredamnya dengan baik. Kau menatapku dalam raut kesima.
“ Aku tidak pernah tahu perempuan baik-baik dan berjilbab macam kamu bisa merokok”.
“ Aku juga tidak...tapi kenapa harus peduli? Lagipula rokok itu makruh,kau tahu artinya?”
“ Yeahh..”
Ia mengeluarkan sebatang lagi dan kami berdua hanya menghirup nikotin itu dalam-dalam dan pelan-pelan dalam sunyi. Sunyi yang amat cerewet. Malam menghantar kalimat-kalimat yang tak terucapkan.
Kau menarik nafas panjang setelah batang keempat.
“Kau pikir aku juga tak pernah rindu padamu, Tung? Ah, kenapa kau pikir begitu?” Tentu saja kau tahu jawabnya mengapa kau pikir begitu. Kau tak pernah peduli, tak pernah menyapa lagi dan tega membiarkan inginku jadi dingin yang berlalu bersama angin.
“Kau tahu, Tung? Membuat konklusi prematur tentang perasaan seseorang padamu adalah kejahatan yang amat serius. Aku bisa menuntutmu untuk itu” . kau tersenyum.
“ Aku bisa menuntutmu terlebih dahulu atas kejahatan yang lebih serius, Ting”
“ Apa? Memangnya aku pernah memerkosa kamu? Hahaha...kamu satu-satunya pacarku yang masih perawan dan aku menghormati pilihanmu. Aku setengah mati berusaha tak menyentuhmu sama sekali. What could be worse than that? Hahahaha” . kami terkekeh pelan bersamaan kali ini..lalu terdiam lagi.
“ Kau memutilasi hidupku. Kau curi lantas kau campakkan begitu saja hatiku. Sulit bagiku untuk hidup seperti sediakala lagi, Ting. I was heavily paralyzed”.
“ Kau tahu dari awal aku memang seperti itu, kan? Hhhh...yang mungkin tak kau tahu adalah kau juga melumpuhkan hatiku, Tung. Aku tu sayang sekali sama kamu. Kau tahu itu? Kurasa tidak. Bukannya aku tidak pernah mencoba untuk mencintai perempuan-perempuan lain setelah kepergianmu. Ternyata belajar jatuh cinta itu sulitnya bukan main. Kau tahu bukan, aku tak bisa dan tak pernah terbiasa untuk menyandarkan hatiku pada sesiapapun.”
“ Aku tahu “
“ Mencintai itu luka, Tung. Merindukan itu kalah dan cemburu itu bunuh diri bagi hati. Kau tahu rasanya ketika kau bersama dengan lelaki itu? Aku meranggas mati!”
“ Lelaki mana?”
“ Lelaki yang bisa mengembalikan lagi kepercayaanmu pada cinta”
“ Bagaimana kau...”
“ Web blog-mu. Aku membacanya tiap hari”
“ Tapi bagaimana mungkin kau menemukannya? Aku tak pernah beritahu sesiapa” “ Mungkin aku terlalu mengenal dirimu. Mungkin aku tidak sengaja meng-google apapun yang berkaitan dengan kamu, Tung. Nama panggilan kesayangan kita, nama kucingmu..ibumu..apapun. Mungkin waktu itu aku cuma sedang terlalu kangen namun tak punya cukup keberanian untuk menghubungimu dan mengatakannya padamu. Waktu itulah aku menemukan blog-mu. Setiap apa yang kau tulis disitu kuanggap merupakan bagian dari caramu untuk berkomunikasi denganku. Kau berhasil”
Aku tidak pernah berharap dia akan membaca semua tumpahan perasaan yang tertulis dalam sebuah blog yang rasanya alamatnya tak akan pernah diketahui oleh sesiapa. Aku memang tak biasa mengungkapkan perasaanku. Aku menuliskannya, aku merasakannya. Merasa, bergerak dan menjelma kisah. Aku sudah lama kehilangan kepercayaanku pada kepercayaanku pada orang lain. Aku tidak tahu apakah memang begitu sifat manusia. Dua sahabat saling memercayakan rahasia mereka pada satu sama lain, namun saling berlomba menjatuhkan nama dan membonkar borok aib saat mereka berseteru. Aku tidak suka itu. Aku juga sudah lama kehilangan kepercayaan pada cinta. Aku tak lagi percaya. Peperangan dan pembunuhan terkejam pun dilakukan atas dasar cinta. Cinta pada kekasih, pada Tuhan, pada harta..pada apapun. Kau lihat apa yang terjadi di palagan Bubat? Kau tahu apa yang menyebabkan terbunuhnya jutaan orang dalam revolusi kebudayaan Cina? Itu semua karena cinta. Aku tidak tahu pada apa dan siapa lagi aku bisa percaya, kecuali pada Tuhanku.
“ Aku sayang kamu Tung”
“ Aku juga...tapi aku memendam marah padamu, Ting...marah yang kelewat merah dan berdarah”
“ Aku tahu, Tung”
“ Kau memberiku sayap dan membawaku menikmati indahnya dunia, tapi kau yang mematahkannya. Tanpa sebab kau membuat malam-malamku berakhir sembab.”
“ Aku...”
“ Dulu kuanggap kau salah satu cahaya hatiku, Ting...Aku lupa, cahaya yang terang bisa menerangi atau malah membutakan. Ternyata kau cahaya yang membutakanku.”
“Aku berjanji kali ini tidak akan ada lagi sakit hati. Aku kira selama ini aku berhasil memenangkan pertandingan ego ini. ternyata tidak. Aku kalah karena aku tidak bisa menahan diri untuk menghubungimu lagi. Kau juga kalah karena kau bersedia menemuiku lagi meski kita sama-sama tahu aku sudah banyak mengabaikan dan menyakitimu”
“ Tapi ini bukan soal kalah atau menang, Ting. Tapi pilihan untuk tinggal. Kita sudah lama tahu ini akan terjadi. Bahwa akan ada jarak terentang dan perasaan kita akan centang perenang. Kau bermasalah dengan komitmen, aku pun. Kau tak pernah ingin terikat dan aku....Aku sudah jenuh dan ingin segera berlabuh dan membuang sauh. Aku tak ingin memaksa sesiapapun. I’d rather be alone than unhappy.”
“ Maaf ...” Kau terdiam...aku juga. Bergantian menunduk dan menatap bank pembangunan daerah di depan kami. Andai ada alat penghancur kenangan, semahal apapun itu pasti akan kubeli. Untukku satu dan untukmu satu. Angin menghembus pikirku entah kemana. Aneh sekali mengingat bagaimana perasaan bekerja. Sepasang manusia bertemu, tersipu dan bersatu...lalu mungkin jemu lantas berseteru. Kita tak pernah saling mengenal sebelumnya Ting, lalu kau datang memorak morandakan hidupku. Kita menemukan begitu banyak persamaan dalam perbedaan kita. Budaya kita, arah hidup kita, sikap kita, selera bahkan trauma dan kenangan masa kecil kita. Kenanganlah yang mempersatukan kita dan ironisnya, kenangan pula yang memisahkan kita.
“Maaf......” ucapmu sambil merengkuh bahuku masuk kedalam pelukan berbingkai tulang belulangmu. Tak ada kata yang keluar dari mulutku dan juga mulutmu. Aku bersandar di selangka kurus itu tanpa membalas pelukannya sama sekali. Jauh didalam sini, hatiku terasa agak nyeri. Besok pagi aku akan pergi dan tak akan pernah kembali. Riwayat rasa ini, kusudahi sampai disini. Hidupku akan terus berlari, bagai peluru yang terus melaju dan tak lagi ingin melihat kemungkinan-kemungkinan dibelakang, kecuali yang terlihat di ujung matanya. Aku mengucap selamat tinggal keunguan pada masa lalu dan masa depan kami. Semua tamat hingga disini.
Yogyakarta, suatu pagi buta.
Inscription à :
Articles (Atom)