Lelaki di belakang jendela menerawang langit mendung yang menghalangi pandang. Tak ada yang tahu apa yang ada dibalik pikirnya yang biasanya jernih dan lapang. Lagu-lagu sendu mengalun di belakang, membuatnya mulai menghela nafas lebih panjang. Wahai lelaki yang tengah menerawang, apakah yang kiranya tengah kau kenang? Masa depan yang masih di awing atau masa lalu yang membuat hati berlubang-lubang?
Lelaki di belakang jendela pikirnya melayang pada keluarga yang ia sayang nun jauh di sudut dunia yang masih centang perenang. Andai ia bersama mereka sekarang, mungkin tak akan pernah dikenalnya rasa tersiksa kala rindu ganas menyerang. Lelaki di belakang jendela senyumnya terkembang, mengingat dua permata hati yang amat ia sayang. Ketika bunga-bunga tulip mekar di awal musim semi kelak pada kalian aku akan datang.
Lelaki di belakang jendela mengalihkan pandangnya pada kotak hitam yang telah menghubungkan kamarnya yang mungil pada dunia yang menghadang, berbincang dengan beberapa kawan yang seolah hadir berhadapan padahal ada belasan jam waktu terentang. Lelaki di belakang jendela, baginya jarak bukanlah penghalang sebuah persahabatan menjadi lekang.
Lelaki di belakang jendela jemarinya mulai menuliskan kisah di punggung keyboardnya, tentang gelisah pada malam-malam yang tak berbintang, tentang rindu pada ayah bunda yang lebih dahulu berpulang dan hati yang senang maupun meradang. Lelaki di belakang jendela, tekadnya sekeras karang, kekesalannya kadang menjadi radang, diamnya menghanyutkan bagai danau tenang dan riangnya selalu mengajak dunia ikut berdendang.
Lelaki di belakang jendela menerawang menatap senja yang tak lagi terang. Dikenangnya jatuh bangun perjuangannya untuk mendapatkan apa yang dimilikinya sekarang. Mengejar mimpi yang dari dulu selalu terbayang, terbang melayang tak terhalang diantara bintang-bintang. Lelaki di belakang jendela menerawang menatap langit malam dan tersenyum berbisik pada bayangan lelaki serupa dirinya di pantulan jendela kamarnya, “Ayo kita pulang…”
mercredi 22 novembre 2006
lundi 13 novembre 2006
DARI MASA LALU
Di detik ini herman hesse menuliskan siddharta di punggung tangan seorang gautama yang terus menyeka keringat sehabis berlari cepat bagai lima peluru yang baru saja dilepaskannya ke udara sementara fifi alone duduk menunggunya sambil meneriakkan gloria in excelsis dio meski suaranya tidak segarang gloria gaynor saat menggumamkan I will survive!
Ribuan detik sebelum ini seorang agen rahasia mencari jejak sun signs yang ditinggalkan linda goodman disepanjang lorong-lorong yogyakarta suddenly happywounded karena tertabrak oleh gerobak penjual noodle gorillaz yang terlalu sibuk mengorek upil, membersihkan jigong agar lambenya bisa bicara “are you lost little girl?” katanya padaku sambil menyorongkan dua buah sikat gigi pepsodent merah dan biru yang selalu tertinggal di motor silvernya.
Di detik itu she whispered a blindfolded wish before his ears no mes ames, don’t love me tapi dia membalas dengan suara bob tutupoly-nya ( tepat di pukul 11.27 siang hari jumat) everytime I received a sms/call from you he was deg-degan karena itu aku jadi semakin sentimental dan suka melihatnya begitu licik dan sok tau ngomong latin in hora amor mortae sampaikan salamku pada hening ave silencia.
Ribuan detik didepan detik ini tingtungtingtungtingtung! Ia menekan bel dimuka sebuah pintu surga antik ukiran madura monggo pinarak oh terima kasih tante katanya ia akan menambahkan lima huruf namanya dibelakang nama saya tiga ratus enam puluh lima hari lagi setelah detik itu dia menanyakan padanya bagaimana caranya membunuh kenangan yang mengerak didasar hot plate udang pedas.
Di detik detik yang akan datang. a lonely dancer tetap berdiri diatas gelombang waktu dalam seratus tahun kesunyian laksana garcia marquez menanti sang silent seeker yang terus melaju bagai lima butir peluru yang barusan dilepaskannya ke udara sambil berteriak tanya bagaimanakah caranya membalaskan rindu dendam antara kau dan aku?
Yogyakarta, 28 Mei 2003
A souvenir from a suicidal journey to the east
Ribuan detik sebelum ini seorang agen rahasia mencari jejak sun signs yang ditinggalkan linda goodman disepanjang lorong-lorong yogyakarta suddenly happywounded karena tertabrak oleh gerobak penjual noodle gorillaz yang terlalu sibuk mengorek upil, membersihkan jigong agar lambenya bisa bicara “are you lost little girl?” katanya padaku sambil menyorongkan dua buah sikat gigi pepsodent merah dan biru yang selalu tertinggal di motor silvernya.
Di detik itu she whispered a blindfolded wish before his ears no mes ames, don’t love me tapi dia membalas dengan suara bob tutupoly-nya ( tepat di pukul 11.27 siang hari jumat) everytime I received a sms/call from you he was deg-degan karena itu aku jadi semakin sentimental dan suka melihatnya begitu licik dan sok tau ngomong latin in hora amor mortae sampaikan salamku pada hening ave silencia.
Ribuan detik didepan detik ini tingtungtingtungtingtung! Ia menekan bel dimuka sebuah pintu surga antik ukiran madura monggo pinarak oh terima kasih tante katanya ia akan menambahkan lima huruf namanya dibelakang nama saya tiga ratus enam puluh lima hari lagi setelah detik itu dia menanyakan padanya bagaimana caranya membunuh kenangan yang mengerak didasar hot plate udang pedas.
Di detik detik yang akan datang. a lonely dancer tetap berdiri diatas gelombang waktu dalam seratus tahun kesunyian laksana garcia marquez menanti sang silent seeker yang terus melaju bagai lima butir peluru yang barusan dilepaskannya ke udara sambil berteriak tanya bagaimanakah caranya membalaskan rindu dendam antara kau dan aku?
Yogyakarta, 28 Mei 2003
A souvenir from a suicidal journey to the east
BoelVadag'sHappyWounded
Adalah karena
Kaulawan
Sunyi
Saat seharusnya
Kau memeluknya
Adalah karena
Kau balut luka
Saat seharusnya
Kau biarkan
Ia
Mengering
Pada saatnya
Pada musimnya
Adalah karena
Kau coba tenangkan
Rasa gatal-gatal itu
Saat seharusnya
Kau menggaruknya
Kaulawan
Sunyi
Saat seharusnya
Kau memeluknya
Adalah karena
Kau balut luka
Saat seharusnya
Kau biarkan
Ia
Mengering
Pada saatnya
Pada musimnya
Adalah karena
Kau coba tenangkan
Rasa gatal-gatal itu
Saat seharusnya
Kau menggaruknya
AKU
aku kiki.
separuh diriku adalah air yang terus mengalir...
separuhnya lagi adalah cadas yang keras........
separuh lainnya adalah api yang menghanguskan.
separuh lainnya adalah angin yang sejuk dan setia
...........dan aku tidak mengenali separuh lainnya
separuh diriku adalah air yang terus mengalir...
separuhnya lagi adalah cadas yang keras........
separuh lainnya adalah api yang menghanguskan.
separuh lainnya adalah angin yang sejuk dan setia
...........dan aku tidak mengenali separuh lainnya
ROLET RUSIA
siapa yang akan lebih dahulu menarik picu?
kau?
atau aku?
siapa yang akan lebih dahulu tertembus peluru?
kau?
atau aku?
ps: kelak kenanglah aku hanya bilamana perlu..
kau?
atau aku?
siapa yang akan lebih dahulu tertembus peluru?
kau?
atau aku?
ps: kelak kenanglah aku hanya bilamana perlu..
KADO
apakah sudah kau terima
paket bersampul coklat
isi kupu-kupu perak
yang kutangkap dari taman hatiku?
sebagai hadiahku untuk ulang tahunmu
paket bersampul coklat
isi kupu-kupu perak
yang kutangkap dari taman hatiku?
sebagai hadiahku untuk ulang tahunmu
SETIAP
Setiap (1)
Setiap kali melulu wajahmu yang mengisi benakku.
Setiap kali melulu tutur merdumu menambur gendang telingaku.
Setiap kali melulu sikap emosimu yang menghuni pelupukku.
Setiap kali melulu aku bertanya dan tersipu:
Bagaimana caranya semenit saja melupakanmu?
Setiap (2)
Kenapa setiap kali aku merasa
Bagai anak domba yang kau panggil merumput di ladang hatimu
dengan dendang kupu-kupu yang memanjakanku,
lantas tiba-tiba terjebak dalam benteng kawat berduri
yang tiba-tiba kau pancang mengelilingi hatimu.
Tak ada celah untukku keluar, aku tersangkut pilu.
Berdarah-darah dan sunyi,
Sendirian terkait di kawat berduri yang mengelilingi hatimu.
Setiap kali melulu wajahmu yang mengisi benakku.
Setiap kali melulu tutur merdumu menambur gendang telingaku.
Setiap kali melulu sikap emosimu yang menghuni pelupukku.
Setiap kali melulu aku bertanya dan tersipu:
Bagaimana caranya semenit saja melupakanmu?
Setiap (2)
Kenapa setiap kali aku merasa
Bagai anak domba yang kau panggil merumput di ladang hatimu
dengan dendang kupu-kupu yang memanjakanku,
lantas tiba-tiba terjebak dalam benteng kawat berduri
yang tiba-tiba kau pancang mengelilingi hatimu.
Tak ada celah untukku keluar, aku tersangkut pilu.
Berdarah-darah dan sunyi,
Sendirian terkait di kawat berduri yang mengelilingi hatimu.
i love you for sentimental reasons
Kadangkala aku bertanya-tanya bagaimanakah kelak episode ini berakhir? Apakah kisahku dengannya akan ditutup dengan kalimat “dan merekapun hidup bahagia selama-lamanya” bak dongeng Cinderella? Aku tak tahu. Lagipula, bagaimana kau mendefinisikan bahagia, apalagi dengan embel-embel ‘selama-lamanya’? seberapa lamakah selama-lamanya itu? Adakah bahagia yang selamanya macam itu? Ah, pernahkah kau bertanya-tanya juga, apa yang terjadi pada Cinderella dan pangerannya setelah kata “bahagia selama-lamanya”? Bagaimana cara mereka mengatasi masalah dan berbaikan lagi setelah mereka berselisih paham dan bertengkar karena hal-hal yang mungkin seharusnya tidak dipertengkarkan? Apakah Cinderella dan pangeran masih bergenggam tangan dan menatap mesra saat mereka sudah berusia senja? Apakah kita akan bersama dan hidup bahagia selamanya? Aku sungguh tak tahu. Tapi aku ingin sekali berkesempatan mencoba kemungkinan-kemungkinan itu.
Ada berapa kemungkinan cerita yang mungkin kumiliki dalam sepenggalan kisah hidup? Kisah ini bisa berlanjut menjadi kisah yang mana saja. Aku berdebar setiap kali memikirkan belasan bahkan puluhan kemungkinan arah selanjutnya kisahku dengannya. Aku seringkali merekonstruksi lagi kenangan-kenangan dengannya dan kadang aku mengulang beberapa bagian yang kusukai sampai beberapa kali. Aku tak punya banyak benda yang bisa kukenang darinya, kecuali kenangan-kenangan kami. Apakah ia juga pernah memikirkanku dan mengenangku? Aku tak tahu...
Aku tak percaya akhirnya kukatakan juga semua perasaan ini kepadanya. Banyak orang berpikir perempuan seharusnya diam. Menunggu. Berburu dengan pasif. Tapi kali ini aku tak bisa seperti itu lagi. Aku akan mengatakan apa yang bisa kukatakan hari ini, karena mungkin saja esok aku tidak akan punya kesempatan untuk mengatakan padanya. Aku tidak ingin menyesalinya. Aku tidak ingin menimbun lebih banyak harapan dan kenangan bila perasaan tidak berbalas. Mungkin ini hanya semata masalah waktu: sekarang atau nanti.
Ah, andai aku bisa memiliki waktu...
Tapi itu tak mungkin. Tak seorangpun bisa menggenggamnya atau menahan lajunya. Aku tengah berpacu dengan waktu, mungkin ia juga begitu...kita tak pernah tahu atau sadar betapa lajunya waktu berlari. Tahu-tahu pesta dansa Cinderella sudah hampir selesai. Jangan sampai kereta kencana berubah lagi menjadi labu sebelum aku sempat menaikinya dan tiba di rumah dengan selamat. Aku hanya merasa harus melakukan apa yang harus kulakukan.
Sebab itu kukatakan padanya, pemuda yang menyengat hati itu bahwa aku sangat menyayanginya dan merasa begitu beruntung pernah mengenalnya. Ia membantuku menjadi orang yang lebih baik dan ia membuatku percaya adanya ketulusan yang tak pamrih. Kuharap ia juga merasakan apa yang aku rasakan. Pun andai tidak, aku ingin meminta ijinnya untuk boleh terus menyimpan kenangan tentang dirinya dalam sudut khusus yang terjaga aman di hatiku dan aku ingin meyakinkannya bahwa ikatan hati kami tak akan kubiarkan renggang apapun yang terjadi. Aku masih menunggunya disini. Aku ingin dia tahu bahwa ada seseorang di dunia ini yang teramat menyayanginya dan menunggunya kembali...
for my beloved soulmate, whoever you are God gave me :)
...i know somewhere, there is someone waiting for me.
Ada berapa kemungkinan cerita yang mungkin kumiliki dalam sepenggalan kisah hidup? Kisah ini bisa berlanjut menjadi kisah yang mana saja. Aku berdebar setiap kali memikirkan belasan bahkan puluhan kemungkinan arah selanjutnya kisahku dengannya. Aku seringkali merekonstruksi lagi kenangan-kenangan dengannya dan kadang aku mengulang beberapa bagian yang kusukai sampai beberapa kali. Aku tak punya banyak benda yang bisa kukenang darinya, kecuali kenangan-kenangan kami. Apakah ia juga pernah memikirkanku dan mengenangku? Aku tak tahu...
Aku tak percaya akhirnya kukatakan juga semua perasaan ini kepadanya. Banyak orang berpikir perempuan seharusnya diam. Menunggu. Berburu dengan pasif. Tapi kali ini aku tak bisa seperti itu lagi. Aku akan mengatakan apa yang bisa kukatakan hari ini, karena mungkin saja esok aku tidak akan punya kesempatan untuk mengatakan padanya. Aku tidak ingin menyesalinya. Aku tidak ingin menimbun lebih banyak harapan dan kenangan bila perasaan tidak berbalas. Mungkin ini hanya semata masalah waktu: sekarang atau nanti.
Ah, andai aku bisa memiliki waktu...
Tapi itu tak mungkin. Tak seorangpun bisa menggenggamnya atau menahan lajunya. Aku tengah berpacu dengan waktu, mungkin ia juga begitu...kita tak pernah tahu atau sadar betapa lajunya waktu berlari. Tahu-tahu pesta dansa Cinderella sudah hampir selesai. Jangan sampai kereta kencana berubah lagi menjadi labu sebelum aku sempat menaikinya dan tiba di rumah dengan selamat. Aku hanya merasa harus melakukan apa yang harus kulakukan.
Sebab itu kukatakan padanya, pemuda yang menyengat hati itu bahwa aku sangat menyayanginya dan merasa begitu beruntung pernah mengenalnya. Ia membantuku menjadi orang yang lebih baik dan ia membuatku percaya adanya ketulusan yang tak pamrih. Kuharap ia juga merasakan apa yang aku rasakan. Pun andai tidak, aku ingin meminta ijinnya untuk boleh terus menyimpan kenangan tentang dirinya dalam sudut khusus yang terjaga aman di hatiku dan aku ingin meyakinkannya bahwa ikatan hati kami tak akan kubiarkan renggang apapun yang terjadi. Aku masih menunggunya disini. Aku ingin dia tahu bahwa ada seseorang di dunia ini yang teramat menyayanginya dan menunggunya kembali...
for my beloved soulmate, whoever you are God gave me :)
...i know somewhere, there is someone waiting for me.
THE PRAYER
Ingatkah kau, suatu ketika di joglo pinggir kali,
Ketika Ahad datang berseri dan hati kita tengah terbakar api.
Kita duduk berdua di amben kayu jati, terdiam membiarkan semua kata dilumat sunyi.
Kulihat pandangmu jauh melintasi hamparan pasir gunung Merapi,
Melompati tumpukan kayu bakar dan perempuan berkebaya yang menyapu halaman dengan sapu lidi.
Bara merah melompat jatuh dari rokok diselipan jemari...
“Seharusnya tak kubiarkan kau kemari, hai belahan diri...”
“Aku berjanji tak akan jatuh hati...”
“Mungkin kau tidak...tapi kau tak tahu siapa yang kau hadapi. Sejak awal sudah kukatakan hatiku telah kau kuasai!”
Sehelai daun hijau tua jatuh dan masuk kali. Mengapa kita tak boleh saling memiliki?
*****
Sore hampir tamat. Ia masih terpaku berdiri di sisi jendela kantornya yang menghadap ke barat, menerawang jauh melintasi gedung-gedung yang seolah berebutan menggapai awan jingga. Dimatanya yang berkaca-kaca tersimpan kepingan-kepingan harapan. Ia menghela nafasnya begitu panjang, seperti setengah berharap dapat menghirup seluruh kekuatan di dunia untuk masuk ke dalam tubuhnya. Tembang The Prayer milik Josh Groban sendu mengalun melatari kebekuan waktu.
“I pray you’ll be alright...”
Ia berjuang menahan jebolnya tanggul air mata yang siap merangsek dari setiap kerjapan matanya. Ia melirik jamnya. Sudah 2400 jam 24 menit dan 24 detik sejak perjumpaan terakhir mereka. Dalam hati ia berdo’a agar lelaki itu baik-baik saja. I’ll pray you’ll be alright.
Sekali lagi ia menghela nafasnya begitu panjang. Ia tengah mencari kabar kekasihnya dibalik tebaran awan yang mulai berubah merah keunguan. Apakah kekasihnya baik-baik saja? Apakah kekasihnya bahagia? Apakah kekasihnya pernah memikirkan dirinya sebanyak ia memikirkannya? Apakah kekasihnya masih mengingat kenangan terakhir mereka yang saat ini sedang diingatnya begitu ia mendengarkan lagu ini? Apakah kekasihnya pernah berusaha mencarinya...menghubungi polisi, menelepon program tali kasih di stasiun televisi, mengumumkan di koran dan radio atau bahkan sekedar mencarinya dibalik tebaran awan yang mulai berubah merah keunguan?
Ia beringsut menuju komputernya. Suara Josh Groban masih saja memenuhi ruang kerja dan ruang hatinya. Ia sudah clicked button Internet Explorer. Ia masih mengingat e-mailnya. Ia berpikir untuk menyapanya lewat sebaris kalimat basa basi yang amat basi, namun ia segera mengurungkan niatnya. Bukankah sudah 2400 jam 24 menit dan 24 detik sejak perjumpaan terakhir mereka, lelaki itu tak pernah lagi membalas sapanya meski cuma satu kata? Dulu ia bahkan sempat menulisi surat yang begitu panjang bercerita tentang perasaan dan kerinduannya, namun lagi-lagi semuanya tak berbalas. Begitulah, sejak itu ia berusaha lebih menahan diri dan tahu diri untuk tidak menghubunginya lagi. Tanda seru telah dibubuhkan pada kalimat penutup kisah mereka.
Ia kembali bersandar di jendela. Suara Josh Groban baru memasuki menit ke 2, masih pada lagu yang sama, yang sudah diputar lagi untuk ke 7 kalinya. Merah langit mulai terburai menjadi ungu. Ia mulai merasa lelah, marah dan hilang arah. Mengapa ia harus terlahir dengan keyakinan yang berbeda dengannya? Mengapa harus ada begitu banyak Tuhan apabila dunia berkata semua menuju yang Satu semata dan demi tujuan yang satu jua? Mengapa Tuhan harus mempertemukan dan menanamkan cinta di hati sepasang anak manusia bila mereka harus dipisahkan lagi atas Nama-Nya juga?
Ia lantas kembali bergerak menjauhi jendela untuk meraih telpon genggamnya. Tidak ada sms ataupun missed call dari belahan jiwanya dan seperti kemarin dan kemarin dan kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, ia segera mendial satu nama. Belahan Jiwa. Ia ingin sekali menyatakan segenap kerinduannya, betapa inginnya ia kembali pada suatu Minggu dua puluh delapan November pagi 2400 jam 24 menit dan 24 detik yang lalu...saat untuk terakhir kalinya mereka bertemu di sebuah joglo di kaki Merapi. Namun seperti juga kemarin dan kemarin dan kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, ia segera saja mematikan teleponnya bahkan sebelum nada sambung berbunyi. Kesal dengan dirinya, ia segera membuka pintu teras kantornya yang terletak di lantai sembilan dan melempar jauh-jauh telepon genggamnya.
I'll pray she'll be allright
Buat Arya dan Febri. I'll pray you'll be allright
Ketika Ahad datang berseri dan hati kita tengah terbakar api.
Kita duduk berdua di amben kayu jati, terdiam membiarkan semua kata dilumat sunyi.
Kulihat pandangmu jauh melintasi hamparan pasir gunung Merapi,
Melompati tumpukan kayu bakar dan perempuan berkebaya yang menyapu halaman dengan sapu lidi.
Bara merah melompat jatuh dari rokok diselipan jemari...
“Seharusnya tak kubiarkan kau kemari, hai belahan diri...”
“Aku berjanji tak akan jatuh hati...”
“Mungkin kau tidak...tapi kau tak tahu siapa yang kau hadapi. Sejak awal sudah kukatakan hatiku telah kau kuasai!”
Sehelai daun hijau tua jatuh dan masuk kali. Mengapa kita tak boleh saling memiliki?
*****
Sore hampir tamat. Ia masih terpaku berdiri di sisi jendela kantornya yang menghadap ke barat, menerawang jauh melintasi gedung-gedung yang seolah berebutan menggapai awan jingga. Dimatanya yang berkaca-kaca tersimpan kepingan-kepingan harapan. Ia menghela nafasnya begitu panjang, seperti setengah berharap dapat menghirup seluruh kekuatan di dunia untuk masuk ke dalam tubuhnya. Tembang The Prayer milik Josh Groban sendu mengalun melatari kebekuan waktu.
“I pray you’ll be alright...”
Ia berjuang menahan jebolnya tanggul air mata yang siap merangsek dari setiap kerjapan matanya. Ia melirik jamnya. Sudah 2400 jam 24 menit dan 24 detik sejak perjumpaan terakhir mereka. Dalam hati ia berdo’a agar lelaki itu baik-baik saja. I’ll pray you’ll be alright.
Sekali lagi ia menghela nafasnya begitu panjang. Ia tengah mencari kabar kekasihnya dibalik tebaran awan yang mulai berubah merah keunguan. Apakah kekasihnya baik-baik saja? Apakah kekasihnya bahagia? Apakah kekasihnya pernah memikirkan dirinya sebanyak ia memikirkannya? Apakah kekasihnya masih mengingat kenangan terakhir mereka yang saat ini sedang diingatnya begitu ia mendengarkan lagu ini? Apakah kekasihnya pernah berusaha mencarinya...menghubungi polisi, menelepon program tali kasih di stasiun televisi, mengumumkan di koran dan radio atau bahkan sekedar mencarinya dibalik tebaran awan yang mulai berubah merah keunguan?
Ia beringsut menuju komputernya. Suara Josh Groban masih saja memenuhi ruang kerja dan ruang hatinya. Ia sudah clicked button Internet Explorer. Ia masih mengingat e-mailnya. Ia berpikir untuk menyapanya lewat sebaris kalimat basa basi yang amat basi, namun ia segera mengurungkan niatnya. Bukankah sudah 2400 jam 24 menit dan 24 detik sejak perjumpaan terakhir mereka, lelaki itu tak pernah lagi membalas sapanya meski cuma satu kata? Dulu ia bahkan sempat menulisi surat yang begitu panjang bercerita tentang perasaan dan kerinduannya, namun lagi-lagi semuanya tak berbalas. Begitulah, sejak itu ia berusaha lebih menahan diri dan tahu diri untuk tidak menghubunginya lagi. Tanda seru telah dibubuhkan pada kalimat penutup kisah mereka.
Ia kembali bersandar di jendela. Suara Josh Groban baru memasuki menit ke 2, masih pada lagu yang sama, yang sudah diputar lagi untuk ke 7 kalinya. Merah langit mulai terburai menjadi ungu. Ia mulai merasa lelah, marah dan hilang arah. Mengapa ia harus terlahir dengan keyakinan yang berbeda dengannya? Mengapa harus ada begitu banyak Tuhan apabila dunia berkata semua menuju yang Satu semata dan demi tujuan yang satu jua? Mengapa Tuhan harus mempertemukan dan menanamkan cinta di hati sepasang anak manusia bila mereka harus dipisahkan lagi atas Nama-Nya juga?
Ia lantas kembali bergerak menjauhi jendela untuk meraih telpon genggamnya. Tidak ada sms ataupun missed call dari belahan jiwanya dan seperti kemarin dan kemarin dan kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, ia segera mendial satu nama. Belahan Jiwa. Ia ingin sekali menyatakan segenap kerinduannya, betapa inginnya ia kembali pada suatu Minggu dua puluh delapan November pagi 2400 jam 24 menit dan 24 detik yang lalu...saat untuk terakhir kalinya mereka bertemu di sebuah joglo di kaki Merapi. Namun seperti juga kemarin dan kemarin dan kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, ia segera saja mematikan teleponnya bahkan sebelum nada sambung berbunyi. Kesal dengan dirinya, ia segera membuka pintu teras kantornya yang terletak di lantai sembilan dan melempar jauh-jauh telepon genggamnya.
I'll pray she'll be allright
Buat Arya dan Febri. I'll pray you'll be allright
mercredi 18 octobre 2006
Doa
menjelang bulan suci berakhir...
kupanjatkan doa padamu Tuhan..
agar berikan kelapangan hati untuk memaafkan mereka yang pernah menyakitiku
dan memberikanku kelapangan hati untuk meminta maaf sepenuh hati pada mereka yang pernah kusakiti.
kupanjatkan doa padamu Tuhan..
agar berikan kelapangan hati untuk memaafkan mereka yang pernah menyakitiku
dan memberikanku kelapangan hati untuk meminta maaf sepenuh hati pada mereka yang pernah kusakiti.
vendredi 30 juin 2006
JATUH CINTA 2
kusembunyikan perasaanku yang mulai memerah mawar di celah tuts-tuts huruf di keyboard komputerku.
uselipkan diam-diam cemas rinduku di balik canda kata-kata puisiku.
kuhindarkan namamu dari ucap lidahku dan kusingkirkan tawa lepasmu yang begitu kurindu dari daftar penyebab merahnya pipi bulatku.
dan diam-diam setiap malam
kupandangi lagi senyum bekumu dalam sehelai kertas yang terbingkai kayu sungkai.
selalu saja mataku lama terpaku disitu
dan hatiku kian merindu...
menunggu...
uselipkan diam-diam cemas rinduku di balik canda kata-kata puisiku.
kuhindarkan namamu dari ucap lidahku dan kusingkirkan tawa lepasmu yang begitu kurindu dari daftar penyebab merahnya pipi bulatku.
dan diam-diam setiap malam
kupandangi lagi senyum bekumu dalam sehelai kertas yang terbingkai kayu sungkai.
selalu saja mataku lama terpaku disitu
dan hatiku kian merindu...
menunggu...
mercredi 28 juin 2006
JATUH CINTA 1
Kenapa kau biarkan aku jatuh cinta sendirian padamu?
Kenapa kau biarkan dirimu memesonakanku?
Kenapa kau tawan hatiku bagai pijar petromaks mematikan laron?
Kenapa?
sedang gedubrakan jatuh cinta setengah mati.
Kenapa kau biarkan dirimu memesonakanku?
Kenapa kau tawan hatiku bagai pijar petromaks mematikan laron?
Kenapa?
sedang gedubrakan jatuh cinta setengah mati.
mardi 20 juin 2006
murid-muridku,
tegurlah keras diriku,
apabila aku hanya mengajarimu
membaca dan mengeja kata
tanpa membuatmu paham makna
hidupmu di dunia haruslah bahagia
dan mengurangi sebanyak mungkin nestapa.
jangan ragu untuk berteriak protes
kalau aku tak bisa membuatmu sadar bahwa hidup bukan cuma main Pe-Es
atau sekedar ikutan les-les yang tak kunjung membuat otakmu beres
tanpa membuatmu sadar ada teman-teman seumurmu
harus keliling kampung menjual es,
supaya bisa tebus spp dan ikut ujian atawa tes.
murid-muridku,
jangan biarkan aku cuma mengajarmu berhitung
jika masih kubiarkan kau hanya bisa cari untung
dengan memotong keringat orang lain menjadi buntung.
jangan biarkan aku cuma mengajarimu cara mengali
tanpa pernah tahu caranya membagi
ingatkan aku untuk mengajarimu matematika nurani,
agar kau tahu bagaimana menambah amal, mengurangi dosa
agar kau ngerti bahwa membagi lebih banyak
takkan pernah mengurangi kekayaan dan harga diri.
murid-muridku,
ingatkan aku agar tak lelah mengajarmu dan diriku
bagaimana caranya menjadi manusia
sebenar-benar manusia
tegurlah keras diriku,
apabila aku hanya mengajarimu
membaca dan mengeja kata
tanpa membuatmu paham makna
hidupmu di dunia haruslah bahagia
dan mengurangi sebanyak mungkin nestapa.
jangan ragu untuk berteriak protes
kalau aku tak bisa membuatmu sadar bahwa hidup bukan cuma main Pe-Es
atau sekedar ikutan les-les yang tak kunjung membuat otakmu beres
tanpa membuatmu sadar ada teman-teman seumurmu
harus keliling kampung menjual es,
supaya bisa tebus spp dan ikut ujian atawa tes.
murid-muridku,
jangan biarkan aku cuma mengajarmu berhitung
jika masih kubiarkan kau hanya bisa cari untung
dengan memotong keringat orang lain menjadi buntung.
jangan biarkan aku cuma mengajarimu cara mengali
tanpa pernah tahu caranya membagi
ingatkan aku untuk mengajarimu matematika nurani,
agar kau tahu bagaimana menambah amal, mengurangi dosa
agar kau ngerti bahwa membagi lebih banyak
takkan pernah mengurangi kekayaan dan harga diri.
murid-muridku,
ingatkan aku agar tak lelah mengajarmu dan diriku
bagaimana caranya menjadi manusia
sebenar-benar manusia
no preservatives
kucoba awetkan kenangan-kenangan hidupku
dalam deretan toples-toples kaca bening yang steril.
kulabel setiap toples dengan tulisan tangan sederhana
barcode dan tanggal produksi tertera di bagian samping.
tapi kolom kadaluarsa masih saja kosong.
aku curiga kenangan hidupku takkan pernah basi
sendirinya awet tanpa pengawet.
manis tanpa pemanis
mematikan tanpa racun
terkadang berdarah tanpa luka.
dalam deretan toples-toples kaca bening yang steril.
kulabel setiap toples dengan tulisan tangan sederhana
barcode dan tanggal produksi tertera di bagian samping.
tapi kolom kadaluarsa masih saja kosong.
aku curiga kenangan hidupku takkan pernah basi
sendirinya awet tanpa pengawet.
manis tanpa pemanis
mematikan tanpa racun
terkadang berdarah tanpa luka.
jeudi 15 juin 2006
hanya padaMU
Bulan jingga melubangi malam
yang hangus dan legam
diranggas rindu dendam
bahkan kerlip bintang berceceran
seakan enggan berkawan bulan
yang sedari tadi termenung sendirian
sia-sia meminta angin hembuskan dingin
pada rindu yang begitu ingin
percuma saja memaksa salju bekukan kalbu
kalau hati masih begitu menggebu-gebu
malam masih saja sendirian
cerminan rinduku pada-Mu
yang hangus dan legam
diranggas rindu dendam
bahkan kerlip bintang berceceran
seakan enggan berkawan bulan
yang sedari tadi termenung sendirian
sia-sia meminta angin hembuskan dingin
pada rindu yang begitu ingin
percuma saja memaksa salju bekukan kalbu
kalau hati masih begitu menggebu-gebu
malam masih saja sendirian
cerminan rinduku pada-Mu
lundi 12 juin 2006
...
Aku sudah berdoa seharian
tapi tampaknya Tuhan sedang bepergian..
tapi memang sudah seharusnya, bukan?
aku harus bersiap untuk tidak siap
bahwa dia mati jika diamati
.......
"lho kamu belum mati juga?"
"belum...katanya mereka belum selesai membangun surga"
.......
tapi tampaknya Tuhan sedang bepergian..
tapi memang sudah seharusnya, bukan?
aku harus bersiap untuk tidak siap
bahwa dia mati jika diamati
.......
"lho kamu belum mati juga?"
"belum...katanya mereka belum selesai membangun surga"
.......
samedi 10 juin 2006
LOVE = LOST+NAIVE
please remember to remember me
and please forget to forget me
even if you remember to forget me,
please remember to forget to remember me.
once i want to forget to remember you
but i just forget not to forget you.
no matter how hard i try to forget you
i always remember to remember you
and please forget to forget me
even if you remember to forget me,
please remember to forget to remember me.
once i want to forget to remember you
but i just forget not to forget you.
no matter how hard i try to forget you
i always remember to remember you
RINDU
Setiap kali memandangmu...
aku hanya berharap dapat mengatakan sesuatu,
seperti : aku cinta padamu.
tapi entah mengapa aku hanya bisa berkata dalam bisu
dan memandang penuh rindu padamu hanya dalam kelu,
meski kau selalu ada disitu..
disebelahku.
aku hanya berharap dapat mengatakan sesuatu,
seperti : aku cinta padamu.
tapi entah mengapa aku hanya bisa berkata dalam bisu
dan memandang penuh rindu padamu hanya dalam kelu,
meski kau selalu ada disitu..
disebelahku.
Inscription à :
Articles (Atom)